Tanjungpinang – Mantan Presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy, pernah berkata: “Jika politik kotor, maka puisi akan membersihkannya.” Kalimat itu terasa relevan ketika 24 tokoh lintas profesi, dari penyair, dosen, politisi, hingga pejabat dan pelajar, berkumpul membacakan puisi di Tanjungpinang, dua hari menjelang peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI.
Malam itu, monumen Proklamasi—penanda bergabungnya Riow ke dalam NKRI tahun 1949—bergema oleh suara lantang para pembaca puisi. Udara sejuk malam Tanjungpinang terasa hangat karena api semangat yang membakar setiap bait.
Baca Juga : Komedian Mpok Alpa Meninggal Dunia
Dari Senior hingga Generasi Muda
Tokoh pers dan sastrawan senior, Rida K. Liamsi, membuka parade dengan membaca puisinya sendiri. Usianya memang lebih tua dari umur kemerdekaan Indonesia, namun suaranya tetap mantap.
Setelah itu, tiga pelajar SMA, termasuk Nabila Akhyar, tampil dengan percaya diri. Kehadiran mereka membuktikan bahwa guru-guru Bahasa Indonesia masih tekun menanamkan kecintaan pada sastra, meski kurikulum sering berubah-ubah.
Sayangnya, mahasiswa tak ikut ambil bagian. Zainal Takdir, Muhammad Febri, Sabri, dan Irwanto mewakili generasi setelah pelajar SMA.
Kehadiran Tokoh Daerah
Parade puisi semakin hidup dengan kehadiran Suryatati A. Manan, mantan Wali Kota Tanjungpinang selama 17 tahun. Ia membacakan puisi yang baru ia tulis beberapa jam sebelum tampil. “Puisinya bahkan lebih berani dari kita,” seloroh Husnizar Hood, Ketua Perhimpunan Penulis Kepulauan Riau, yang malam itu memandu acara.
Dukungan teknis datang dari berbagai pihak. Rida K. Liamsi menanggung biaya spanduk, sementara fasilitas pengeras suara dipinjamkan Wali Kota Tanjungpinang setelah ditelepon Husnizar. Meski acara digelar sederhana dan tanpa anggaran khusus, makna parade tak berkurang sedikit pun.
Warna dari Penyair dan Pejabat
Penyair lintas negara Tarmizi Rumah Hitam hadir lengkap dengan tanjak dan busana Melayu. Selain membaca puisi, ia juga dikenal sebagai pengrajin batu akik dan pembuat perlengkapan tradisional. Dari Batam, tiga penyair perempuan ikut menambah semarak.
Sementara itu, Mastur Taher, mantan Wakil Bupati Bintan, membacakan puisi penuh energi. Meski berusia 58 tahun dan rambutnya telah memutih, vokalnya tetap lantang. Kini ia lebih sering mengisi program dakwah di Radio Pandawa, dan kesehariannya sederhana dengan mengendarai motor Vario hitam.
Kejutan datang dari Priyo Handoko, anggota KPU Kepri. Ia membuka puisinya dengan menyebutkan makanan khas Melayu—dari lendot, prata, mie lendir hingga nasi lemak—sebagai cara mengingatkan kawan lama masa reformasi.
Penutup Penuh Makna
Baca Juga : Pemusnahan Narkotika Penting Selamatkan Generasi Muda
Menteri Kebudayaan Fadli Zon baru menetapkan Abdul Kadir Ibrahim (Akib) sebagai deklarator Hari Puisi Indonesia, dan ia menutup parade tersebut. Dengan gaya khasnya, Akib membacakan puisi bertema perjuangan dan menutup malam dengan sempurna.
Meski tanpa dana besar, seluruh pembaca puisi hadir dengan sukarela. Mereka membuktikan bahwa puisi tetap hidup, menjadi cahaya di tengah gelapnya realitas sosial-politik.
“Puisi tak boleh mati. Ia seperti bintang utara, memberi petunjuk dalam perjalanan panjang bangsa,” ujar salah seorang peserta.
Saya, Sekretaris Perhimpunan Penulis Kepri, turut membacakan puisi Huesca karya John Cornford (1948) dalam terjemahan Chairil Anwar. Semoga api kecil dari parade ini terus menyala, menyalakan semangat cinta tanah air melalui kata-kata.





